Wawancara Kerja

09Sep08

Wawancara kerja saat ini merupakan salah satu cara yang sangat
populer sebagai salah satu metode untuk menyeleksi karyawan. Bagi
perusahaan-perusahaan kecil dan menengah wawancara kerja seringkali
merupakan metode yang paling diandalkan, mengingat biaya yang
dikeluarkan relatif murah dan “user” (baca: atasan) dapat langsung
bertatap muka dengan si pelamar. Bahkan pada jabatan tertentu
wawancara kerja bisa dilakukan berkali-kali, sebelum calon karyawan
diputuskan untuk diterima bekerja. Sementara bagi para pencari kerja,
wawancara kerja mungkin sudah dianggap sebagai “menu sehari-hari”
yang harus dilalui sebelum resmi diterima bekerja. Anehnya, meskipun
sudah memahami betul bahwa wawancara merupakan suatu hal yang biasa
dilalui dalam melamar pekerjaan, banyak sekali para pelamar yang
tidak siap untuk menghadapi wawancara kerja. Tidak jarang mereka
merasa langsung gugup bahkan patah semangat ketika dipanggil untuk
wawancara, karena sudah seringkali gagal. Forum konseling dalam
website ini banyak dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang
menyangkut bagaimana cara menghadapi wawancara kerja. Para penanya
tersebut banyak yang menceritakan bahwa mereka telah berkali-kali
gagal “melewati” wawancara kerja meskipun diakui bahwa pertanyaan-
pertanyaan yang diajukan oleh “recruiter” (petugas rekrutmen &
seleksi) relatif sama antara perusahaan yang satu dengan perusahaan
yang lain tempat mereka melamar pekerjaan. Ada juga penanya yang
mengatakan bahwa ia berkali-kali selalu lolos dari semua metode
seleksi yang lain (test tertulis, psiko test, dan test ketrampilan)
tetapi tetap gagal ketika wawancara.

Permasalahan diatas menggelitik saya untuk mencari tahu lebih jauh
apa sebenarnya wawancara kerja. Mengapa wawancara kerja ini penting
dilakukan dan mengapa banyak pelamar yang gagal dalam menjalani
wawancara kerja tersebut. Lalu kemudian apa saja yang harus dilakukan
oleh para pelamar untuk menyiasati wawancara kerja supaya berhasil.

Tujuan Wawancara Kerja

Wawancara kerja (job interview) saat ini merupakan salah satu aspek
penting dalam proses rekrutmen dan seleksi karyawan. Meskipun
validitas wawancara dianggap lebih rendah jika dibandingkan dengan
metode seleksi yang lain seperti psiko test, namun wawancara memiliki
berbagai kelebihan yang memudahkan petugas seleksi dalam
menggunakannya.

Apapun penilaian pelamar (calon karyawan), wawancara kerja sebenarnya
memberikan suatu kesempatan atau peluang bagi pelamar untuk mengubah
lowongan kerja menjadi penawaran kerja. Mengingat bahwa wawancara
kerja tersebut merupakan suatu proses pencarian pekerjaan yang
memungkinkan pelamar untuk memperoleh akses langsung ke perusahaan
(pemberi kerja), maka “performance” (baca: proses & hasil) wawancara
kerja merupakan suatu hal yang sangat krusial dalam menentukan apakah
pelamar akan diterima atau ditolak.

Bagi si pelamar, wawancara kerja memberikan kesempatan kepadanya
untuk menjelaskan secara langsung pengalaman, pengetahuan,
ketrampilan, dan berbagai faktor lainnya yang berguna untuk
meyakinkan perusahaan bahwa dia layak (qualified) untuk melakukan
pekerjaan (memegang jabatan) yang ditawarkan. Selain itu wawancara
kerja juga memungkinkan pelamar untuk menunjukkan kemampuan
interpersonal, professional, dan gaya hidup atau kepribadian
pelamar. Jika di dalam CV (Curriculum Vitae) pelamar hanya bisa
mengklaim bahwa dirinya memiliki kemampuan komunikasi dan
interpersonal yang baik, maka dalam wawancara dia diberi kesempatan
untuk membuktikannya.

Bagi perusahaan, wawancara kerja merupakan salah satu cara untuk
menemukan kecocokan antara karakteristik pelamar dengan dengan
persyaratan jabatan yang harus dimiliki pelamar tersebut untuk
memegang jabatan / pekerjaan yang ditawarkan. Secara umum tujuan dari
wawancara kerja adalah:

· Untuk mengetahui kepribadian pelamar
· Mencari informasi relevan yang dituntut dalam persyaratan jabatan
· Mendapatkan informasi tambahan yang diperlukan bagi jabatan dan
perusahaan

Membantu perusahaan untuk mengidentifikasi pelamar-pelamar yang layak
untuk diberikan penawaran kerja.

Teknik Wawancara Kerja

Dua teknik wawancara yang biasa dipergunakan perusahaan dalam
melakukan wawancara kerja adalah wawancara kerja tradisional dan
wawancara kerja behavioral. Dalam prakteknya perusahaan seringkali
mengkombinasikan kedua teknik ini untuk memperoleh data yang lebih
akurat.

·Wawancara kerja tradisional menggunakan pertanyaan-pertanyaan
terbuka seperti “mengapa anda ingin bekerja di perusahaan ini”,
dan “apa kelebihan dan kekurangan anda”. Kesuksesan atau kegagalan
dalam wawancara tradisional akan sangat tergantung pada kemampuan si
pelamar dalam berkomunikasi menjawab pertanyaan-pertanyaan, daripada
kebenaran atau isi dari jawaban yang diberikan. Selain itu pertanyaan-
pertanyaan yang diajukan lebih banyak bersifat mengklarifikasikan apa
yang ditulis dalam surat lamaran dan CV pelamar. Dalam wawancara
kerja tradisional, recruiter biasanya ingin menemukan jawaban atas 3
(tiga) pertanyaan: apakah si pelamar memiliki pengetahuan,
ketrampilan dan kemampuan untuk melakukan pekerjaan, apakah si
pelamar memiliki antusias dan etika kerja yang sesuai dengan harapan
recruiter, dan apakah si pelamar akan bisa bekerja dalam team dan
memiliki kepribadian yang sesuai dengan budaya perusahaan.

Wawancara kerja behavioral didasarkan pada teori bahwa “performance”
(kinerja) di masa lalu merupakan indikator terbaik untuk meramalkan
perilaku pelamar di masa mendatang). Wawancara kerja dengan teknik
ini sangat sering digunakan untuk merekrut karyawan pada level
managerial atau oleh perusahaan yang dalam operasionalnya sangat
mengutamakan masalah-masalah kepribadian. Wawancara kerja behavioral
dimaksudkan untuk mengetahui respon pelamar terhadap suatu kondisi
atau situasi tertentu sehingga pewawancara dapat melihat bagaimana
pelamar memandang suatu tantangan/permasalahan dan menemukan
solusinya. Pertanyaan-pertanyaan yang biasanya diajukan antara
lain: “coba anda ceritakan pengalaman anda ketika gagal mencapai
target yang ditetapkan”, dan “berikan beberapa contoh tentang hal-hal
apa yang anda lakukan ketika anda dipercaya menangani beberapa proyek
sekaligus”. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut si pelamar
perlu mempersiapkan diri untuk mengingat kembali situasi, tindakan
dan hasil yang terjadi pada saat yang lalu. Selain itu, sangat
penting bagi pelamar untuk memancing pertanyaan-pertanyaan lebih
lanjut dari pewawancara agar dapat menjelaskan secara rinci gambaran
situasi yang dihadapinya. Untuk itu diperlukan ketrampilan
berkomunikasi yang baik dari si pelamar. Keberhasilan atau kegagalan
dalam wawancara ini sangat tergantung pada kemampuan pelamar dalam
menggambarkan situasi yang berhubungan dengan pertanyaan pewawancara
secara rinci dan terfokus. Dalam wawancara kerja behavioral, si
pelamar harus dapat menyusun jawaban yang mencakup 4 (empat) hal:
(1) menggambarkan situasi yang terjadi saat itu, (2) menjelaskan
tindakan-tindakan yang diambil untuk merespon situasi yang terjadi,
(3) menceritakan hasil yang dicapai, dan (4) apa hikmah yang dipetik
dari kejadian tersebut (apa yang dipelajari).

Jenis Wawancara Kerja

Dalam dunia kerja, dikenal beberapa tipe wawancara kerja sebagai
berikut:

Wawancara Seleksi (Screening Interview). Jika pelamar atau kandidat
untuk menduduki jabatan berjumlah lebih dari satu orang maka
dilakukan wawancara kerja untuk menyeleksi siapa diantara kandidat
tersebut merupakan kandidat yang paling qualified sehingga bisa
dilanjutkan ke tahap seleksi berikutnya. Wawancara seleksi biasanya
berlangsung singkat antara 15 – 30 menit.

· Wawancara Telepon (Telephone Interview). Demi menghemat biaya
dan efisiensi waktu, banyak recruiter yang melakukan wawancara kerja
melalui telepon. Oleh sebab itu, pelamar harus siap dihubungi sewaktu-
waktu, sebab seringkali recruiter tidak memberikan pilihan bagi
pelamar untuk menentukan waktu kapan ia siap diwawancarai melalui
telepon.

· Wawancara di Kampus / Sekolah (On-Campus Interview) . Meskipun
tidak banyak perusahaan yang melakukan wawancara kerja di kampus,
namun untuk perusahaan-perusahaan tertentu yang mencari para lulusan
untuk dilatih lebih lanjut, cara ini dinilai sangat efektif karena
memberikan akses bagi perusahaan tersebut untuk mendapatkan kandidat
terbaik yang mungkin sangat sulit diperoleh jika menunggu para
kandidat tersebut datang melamar.

· Wawancara di Pameran Kerja (Job Fair Interview). Pameran
kerja diadakan untuk menjembatani perusahaan dengan para pencari
kerja. Pada pameran kerja biasanya, perusahaan memberikan berbagai
informasi mengenai perusahaannya, menerima surat lamaran dan CV dari
pengunjung (pencari kerja), bahkan tidak jarang para recruiter
langsung melakukan wawancara di stand (booth) mereka. Di Indonesia
memang pameran seperti ini masih sangat jarang dilaksanakan jika
dibandingkan dengan pameran otomotif, rumah maupun furniture.

Wawancara di Lokasi Kerja (On-Site Interview). Ketika seorang
kandidat telah lolos dalam tahap wawancara seleksi, seringkali
perusahaan mengundang kandidat tersebut untuk melihat secara langsung
lokasi kerja. Pada kesempatan tersebut recruiter biasanya langsung
melakukan wawancara secara mendalam. Bagi pelamar yang belum memiliki
pengalaman kerja pada lokasi yang lingkungannya kurang lebih sama,
wawancara kerja di lokasi mungkin bisa terasa menakutkan karena
mungkin harus melakukan perjalanan dan berada di wilayah yang tidak
ia kenal.

· Wawancara Kelompok (Panel or Group Interview). Wawancara
kelompok adalah suatu jenis wawancara kerja dimana para pewawancara
(recruiter) terdiri dari 2 (dua) orang atau lebih. Biasanya wawancara
jenis ini dilakukan jika perusahaan memandang bahwa pelamar sudah
hampir memenuhi syarat untuk diterima bekerja. Biasanya para penanya
dalam wawancara inilah yang memiliki wewenang untuk memutuskan apakah
pelamar akan diterima bekerja atau tidak.

Wawancara Kasus (Case Interview). Wawancara kerja jenis ini
menekankan pada kemampuan analisis dan pemecahan masalah terhadap
suatu kasus tertentu. Biasanya dalam wawancara kasus, pelamar diminta
untuk berperan sebagai pemegang jabatan yang ditawarkan, lalu
diberikan sebuah kasus untuk dicarikan solusinya.

Pertanyaan-Pertanyaan Umum

Pada umumnya pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam wawancara
kerja sangat tergantung pada teknik apa yang digunakan oleh si
pewawancara. Jika menggunakan teknik wawancara kerja tradisional maka
pertanyaan-pertanyaan yang seringkali diajukan adalah sebagai berikut:

Jelaskan pada saya bagaimana anda menggambarkan diri anda?
· Apa kelebihan dan kekurangan anda?
· Apa saja prestasi yang pernah anda raih pada pekerjaan yang
terdahulu / ketika sekolah?
· Mengapa anda berhenti dari perusahaan yang lalu?
· Apa tugas-tugas anda pada pekerjaan yang lalu?
· Darimana anda mengetahui perusahaan ini?
· Mengapa anda tertarik untuk bekerja di perusahaan ini?
· Jika anda diterima bekerja untuk jabatan ini, apa yang akan
anda lakukan?
· Apa itu professionalisme menurut anda?
· Apa itu teamwork menurut anda?
. Apa hoby anda?

Dalam wawancara yang menggunakan teknik wawancara kerja behavioral,
maka pertanyaan-pertanyaan di atas seringkali ditambahkan dengan
pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:
· Ceritakan pada saya/kami kapan anda mengalami suatu situasi
yang sangat tidak menyenangkan dan bagaimana anda berhasil keluar
dari situasi tersebut.
· Ceritakan pada saya/kami bagaimana anda meyakinkan klien
anda ketika anda melakukan presentasi.
· Coba anda ceritakan bagaimana anda mengatasi situasi dimana
anda harus melakukan banyak tugas dan anda harus membuat prioritas
tugas mana yang harus didahulukan.
· Bisakah anda ceritakan keputusan apa yang paling sulit anda
buat dalam setahun terakhir ini? Mengapa demikian?
· Ceritakan mengapa team anda gagal mencapai target pada
tahun sebelumnya dan bagaimana anda memotivasi team tersebut sehingga
dapat meraih sukses di tahun berikutnya.
· Bagaimana cara anda menyelesaikan konflik? Bisa beri
contoh?
· Bisakah anda ceritakan suatu kejadian dimana anda mencoba
untuk menyelesaikan suatu tugas dan ternyata gagal?
. Ceritakan apa yang anda lakukan ketika dipaksa membuat suatu aturan
yang tidak menyenangkan bagi karyawan tetapi menguntungkan bagi
perusahaan.

Sebagai suatu proses yang melibatkan interaksi antara kedua belah
pihak, dalam wawancara kerja si pelamar juga biasanya diberikan
kesempatan untuk mengajukan pertanyaan. Oleh karena itu akan sangat
baik jika pelamar mempersiapkan beberapa pertanyaan, misalnya:

· Apa yang diharapkan dari saya jika saya diterima untuk jabatan ini?
· Menurut pengalaman di sini, apa yang merupakan tantangan terbesar
bagi pemegang jabatan ini?
· Apakah ada pelatihan (internal maupun eksternal) yang dapat
membantu saya untuk lebih berperan jika saya diterima bekerja di
perusahaan ini?

Adakah ada hal-hal khusus di luar uraian jabatan yang harus saya
selesaikan dalam waktu tertentu?

Menangani Pertanyaan Bersifat Pribadi

Berbeda dengan kondisi di negara-negara maju dimana hak individu
sangat dijunjung tinggi dan telah memiliki perangkat hukum sangat
memadai tentang hal-hal yang mengatur hak-hak pribadi seseorang
sehingga para recruiter (pewawancara) sangat berhati-hati dalam
mengajukan pertanyaan, di Indonesia justru sebaliknya. Dalam
wawancara kerja di perusahaan-perusahaan di Indonesia seringkali
pewawancara justru banyak menggali masalah-masalah yang bersifat
pribadi. Contoh: Menanyakan latarbelakang pelamar (orangtua, saudara,
istri, anak, status, agama, suku bangsa, umur) adalah merupakan hal
yang dianggap biasa.

Meskipun seringkali pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak memiliki
relevansi dengan jabatan yang dilamar, pelamar harus menyiapkan diri
untuk merespon pertanyaan-pertanyaan tersebut secara tepat dengan
cara-cara yang elegan. Para penanya mungkin saja tidak bermaksud
untuk menyudutkan pelamar, tetapi lebih didasarkan pada kepedulian
mereka terhadap kecocokan antara pelamar (calon karyawan) dengan
budaya yang ada dalam perusahaan. Oleh karena itu jika pelamar
ditanyakan mengenai hal-hal yang dirasa tidak berhubungan dengan
pekerjaan yang ditawarkan, pelamar harus mampu mengidentifikasi apa
makna dibalik pertanyaan tersebut. Untuk merespon pertanyaan-
pertanyaan yang bersifat pribadi, pelamar dapat melakukan beberapa
alternatif:
· Pelamar bisa mengklarifikasi kepada penanya apa relevansi
pertanyaan yang diajukan dengan jabatan yang dilamar sehingga penanya
dapat menjelaskan lebih jauh hubungannya dengan pekerjaan, lalu
berikan jawaban yang tepat.
· Pelamar dapat menjawab langsung secara diplomatis dengan
kesadaran penuh bahwa pertanyaan tersebut memang tidak memiliki
hubungan langsung dengan pekerjaan / jabatan yang dilamar.

Pelamar bisa juga menolak untuk menjawab pertanyaan tersebut jika
dirasa sangat mengganggu privacy pelamar. Jika hal ini terpaksa
dilakukan, maka harus dilakukan dengan cara-cara halus dan diplomatis
sehingga recruiter tidak merasa dilecehkan karena dianggap telah
memberikan pertanyaan yang keliru.

Faktor-Faktor Negatif

Beberapa faktor, baik fisik maupun psikologis, yang harus diwaspadai
oleh pelamar adalah faktor-faktor negatif yang menjadi perhatian
pewawancara. Faktor-faktor tersebut misalnya:

· Penampilan diri yang terlihat tidak professional (dandanan menor,
pakaian yang tidak enak dilihat, tidak rapi, dan tidak sesuai
suasana)
· Bersikap angkuh, defensive atau agresif
· Ogah-ogahan (tidak terlihat antusias atau tertarik dengan materi
pembicaraan yang diajukan pewawancara)
· Gugup
· Sangat menekankan pada kompensasi yang akan diterima
· Selalu berusaha mencari-cari alasan atas setiap kegagalan
yang pernah dialami di masa lalu
· Tidak bisa berdiplomasi dan kurang bisa bersopan santun
· Menyalahkan perusahaan lama atau bekas atasan dimasa lalu,
atau mengeluhkan perubahan teknologi yang cepat
· Tidak bisa fokus dalam menjawab pertanyaan atau
pembicaraan pewawancara
· Gagal memberikan pertanyaan kepada pewawancara
· Berulang kali bertanya: “apa yang dapat diberikan
perusahaan kepada saya kalau saya melakukan ……?”

Kurang persiapan: gagal memperoleh informasi penting seputar
perusahaan, gagal menjawab pertanyaan-pertanyaan pewawancara dan
tidak bisa mengajukan pertanyaan bermutu kepada pewawancara.

Beberapa Saran

Bagi anda pencari kerja yang dipanggil untuk menjalani wawancara
kerja, mungkin ada baiknya anda memperhatikan beberapa saran dibawah
ini.

Lakukan hal-hal berikut:

· Pastikan anda sudah tahu tempat wawancara
· Jika tidak diberitahu terlebih dahulu jenis pakaian apa
yang harus dipakai, maka gunakan pakaian yang bersifat formal,bersih
dan rapi
· Mempersiapkan diri menjawab pertanyaan-pertanyaan yang
mungkin akan diajukan pewawancara
· Usahakan untuk tiba 10 (sepuluh) menit lebih awal, jika
terpaksa terlambat karena ada gangguan di perjalanan segera beritahu
perusahaan (pewawancara)
· Sapa satpam atau resepsionis yang anda temui dengan ramah
· Jika harus mengisi formulir, isilah dengan lengkap dan
rapi.
· Ucapkan salam (selamat pagi / siang / sore) kepada para
pewawancara dan jika harus berjabat tangan, jabatlah dengan erat
(tidak terlalu keras namun tidak lemas)
· Tetaplah berdiri sampai anda dipersilakan untuk duduk.
Duduk dengan posisi yang tegak dan seimbang
· Persiapkan surat lamaran dan CV anda
· Ingat dengan baik nama pewawancara
· Lakukan kontak mata dengan pewawancara
· Tetap fokus pada pertanyaan yang diajukan pewawancara
· Tunjukkan antusiasme dan ketertarikan anda pada jabatan
yang dilamar dan pada perusahaan
· Gunakan bahasa formal, bukan prokem atau bahasa gaul;
kecuali anda diwawancarai untuk mampu menggunakan bahasa tersebut
· Tampilkan hal-hal positif yang pernah anda raih
· Tunjukkan energi dan rasa percaya diri yang tinggi
· Tunjukkan apa yang bisa anda perbuat untuk perusahaan bukan
apa yang bisa diberikan oleh perusahaan kepada anda
· Jelaskan serinci mungkin hal-hal yang ditanyakan oleh
pewawancara
· Ajukan beberapa pertanyaan bermutu diseputar pekerjaan anda
dan bisnis perusahaan secara umum
· Berbicara dengan cukup keras sehingga suara jelas terdengar
oleh pewawancara
· Akhiri wawancara dengan menanyakan apa yang harus anda
lakukan selanjutnya

Ucapkan banyak terima kasih kepada pewawancara atas waktu dan
kesempatan yang diberikan kepada anda.

Hindari hal-hal berikut:

· Berasumsi bahwa anda tahu tempat wawancara, padahal anda
tidak yakin
· Tidak melatih diri untuk menjawab pertanyaan yang kira-kira
akan diajukan pewawancara
· Berpakaian seadanya atau berpakaian dan berdandan sangat
mencolok
· Datang terlambat
· Tidak membawa surat lamaran dan CV
· Menganggap remeh satpam, resepsionis bahkan pewawancara
· Menjabat tangan pewawancara dengan lemas dan gemeta
· Merokok, mengunyah permen atau meludah selama wawancara
· Duduk selonjor atau bersandar
· Berbicara terlalu keras atau terlalu lembut
· Membuat lelucon
· Menjawab sekedarnya saja, seperti “ya” atau “tidak”
atau “tidak tahu” atau “entahlah”.
· Terlalu lama berpikir setiap kali menjawab
· Mengalihkan topik pembicaraan ke hal-hal yang tidak ada
hubungan dengan pekerjaan
· Menyalahkan mantan atasan, mantan rekan kerja atau
perusahaan yang lama
· Memberikan jawaban palsu, berbohong atau memanipulasi data
· Menanyakan gaji dan fasilitas yang diterima pada saat
wawancara seleksi dimana anda belum tahu kemungkinan anda akan
diterima atau tidak
· Memperlihatkan rasa putus asa anda dengan menunjukkan bahwa
anda mau bekerja untuk bidang apa saja dan mau melakukan apa saja
asal bisa diterima bekerja di perusahaan tersebut
· Membahas hal-hal negatif dari anda yang akan merugikan diri
anda sendiri
· Mengemukakan hal-hal yang dianggap masih kontroversial
· Menelpon atau menerima telepon, atau membaca buku selama
wawancara
· Salah menyebut nama pewawancara
· Tidak mengajukan pertanyaan pada saat diberikan kesempatan
untuk bertanya
· Lupa mengucapkan terima kasih kepada para pewawancara



No Responses Yet to “Wawancara Kerja”

  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: