Salah satu tes dalam rangkaian proses rekrutmen pegawai baru yang dianggap momok adalah saat tes wawancara kerja. Wawancara kerja dibagi menjadi dua, yaitu wawancara HRD dan wawancara user (yang akan memakai pelamar). Secara umum tujuan dari adanya tes wawancara adalah untuk memastikan apakah kwalifikasi yang tertulis pada CV (Curriculum Vitae) sesuai dengan kemampuan pelamar. Wawancara HRD bertujuan untuk mengetahui kepribadian pelamar. Sedangkan wawancara user digunakan untuk mengetahui kemampuan teknis yang berkaitan dengan pekerjaan yang akan dilakukan.

Inti utama dalam tes wawancara kerja adalah “percaya diri” (self convidence). Apabila pelamar dapat menunjukkan kepercayaan dirinya maka semua potensi yang ada dalam dirinya akan tergali. Bila kepercayaan diri muncul dapat menimbulkan percakapan dua arah yang akan memberikan kesan tersendiri bagi interviewer. Dengan percaya diri akan keluar jawaban-jawaban cerdas yang diinginkan interviewer. Saya sendiri mengalaminya…

Sebagai bahan pertimbangan, dibawah ini ada sebuah cerita menarik mengenai proses wawancara calon karyawan yang berhasil…

Judul: Tes Tertulis Astra Internasional

Ada sebuah perusahaan besar di Indonesia (anda tahu Astra Internasional bukan?) yg sedang mencari karyawan. Dalam tes tertulisnya, mereka hanya
memberikan satu kasus utk dijawab:

Anda sedang mengendarai motor ditengah malam gelap gulita dan hujan lebat di sebuah daerah yg penduduknya sedang diungsikan semuanya karena bencana banjir. Pemerintah setempat hanya bisa memberikan bantuan 1 buah bis yg saat ini juga sedang mengangkut orang-orang ke kota terdekat. Saat itu juga Anda melewati sebuah perhentian Bis satu-satunya didaerah itu.

Di perhentian Bis itu Anda melihat 3 orang yg merupakan orang terakhir di daerah itu yg sedang menunggu kedatangan Bis :
– Seorang nenek tua yg sekarat
– Seorang dokter yg pernah menyelamatkan hidup Anda sebelumnya.
– Seseorang yg selama ini menjadi idaman hati Anda dan akhirnya Anda temukan

Anda hanya bisa mengajak satu orang utk membonceng Anda, siapakah yg! akan Anda ajak ? Dan jelaskan jawaban Anda mengapa Anda melakukan itu.
Sebelum Anda menjawab, ada beberapa hal yg perlu Anda pertimbangkan: Seharusnya Anda menolong nenek tua itu dulu karena dia sudah sekarat.Jika
tidak segera ditolong akan meninggal. Namun, kalo dipikir-pikir, orang yg sudah tua memang sudah mendekati ajalnya.

Sedangkan yg lainnya masih sangat muda dan harapan hidup kedepannya masih panjang. Dokter itu pernah menyelamatkan hidup Anda. Inilah saat yg tepat utk membalas budi kepadanya. Tapi kalo dipikir, kalo sekedar membalas budi bisa lain waktu khan. Namun,kita tidak akan pernah tau kapan kita mendapatkan kesempatan itu lagi.

Mendapatkan idaman hati adalah hal yg sangat langka. Jika kali ini Anda lewatkan, mungkin Anda tidak akan pernah ketemu dia lagi. Dan impian Anda akan kandas selamanya.

Jadi yg mana yg Anda pilih ? Jawab dulu sesuai naluri, nalar & kata hati anda dulu…Baru buka contekannya dibawah ini. Kayaknya banyak dari antara
anda yg akan salah menjawab nih…hehehe ……….

==============================================================================================================

Utk direnungkan saja (ndak usah serius-serius amat):

Dari sekitar 2000-an orang pelamar hanya 1 orang yg diterima bekerja di perusahaan itu. Orang tersebut tidak menjelaskan jawabannya, hanya menulis
dengan singkat :

“Saya akan memberikan kunci motor saya kepada sang dokter dan meminta dia utk membawa nenek tua yg sedang sekarat tersebut utk ditolong segera.
Sedangkan saya sendiri akan tetap tinggal disana dengan sang idaman hati saya utk menunggu Bis kembali menolong kami.”

Maka sang HRD yg mulai kecewa dgn hasil seleksinya (sebab byk yg gagal dan penjelasannya tidak memuaskan, egois, tidak perduli sesama dsb.) akhirnya lega sekali. Tugasnya selesai… sudah ditemukannya sang calon karyawan tersebut. Dan diterimanyalah calon karyawan tsb dan langsung mendapat “kualifikasi smart & brilliant employee, prospectfull career”.

Anda tau nasib sang karyawan tadi?….Sekarang dia sudah menjadi orang sukses.. bahkan pernah menjabat sebagai Menperindag Indonesia.

Ya dia……si “Rini Suwandi”…

PESAN:
Terkadang…dengan rela utk melepaskan sesuatu yg kita miliki, mengakui segala keterbatasan yg kita miliki dan melepaskan semua keinginan kita utk
sesuatu yg lebih mulia, kita akan mendapatkan sesuatu yg jauh lebih besar……dan lebih hmmm…..

Sumber : http://www.erlangga.co.id


Teknik industri adalah cabang dari ilmu teknik yang berkenaan dengan pengembangan, perbaikan, implementasi, dan evaluasi sistem integral dari manusia, pengetahuan, peralatan, energi, materi, dan proses.

Pada dasarnya, ilmu Teknik Industri dapat dibagi ke dalam tiga bidang keahlian, yaitu

Sistem Manufaktur,

Manajemen Industri,

dan Sistem Industri &Tekno Ekonomi.
Sistem Manufaktur
Sistem Manufaktur adalah sebuah sistem yang memanfaatkan pendekatan teknik industri untuk peningkatan kualitas, produktivitas, dan efisiensi sistem integral yang terdiri dari manusia, mesin, material, energi, dan informasi melalui proses perancangan, perencanaan, pengoperasian, pengendalian, pemeliharaan, dan perbaikan dengan menjaga keselarasan aspek manusia dan lingkungan kerjanya. Jenis bidang keilmuan yang dipelajari dalam Sistem Manufaktur ini antara lain adalah Sistem Produksi, Perencanaan dan Pengendalian Produksi, Pemodelan Sistem, Perancangan Tata Letak Pabrik, dan Ergonomi.

Manajemen Industri
Bidang keahlian Manajemen Industri adalah bidang keahlian yang memanfaatkan pendekatan teknik industri untuk penciptaan dan peningkatan nilai sistem usaha melalui fungsi dan proses manajemen dengan bertumpu pada keunggulan sumber daya insani dalam menghadapi lingkungan usaha yang dinamis. Jenis bidang keilmuan yang dipelajari dalam Manajemen Industri antara lain adalah Manajemen Keuangan, Manajemen Kualitas, Manajemen Inovasi, Manajemen Sumber Daya Manusia, Manajemen Pemasaran, Manajemen Keputusan dan Ekonomi Teknik.

Sistem Industri dan Tekno Ekonomi
Bidang keahlian Sistem Industri dan Tekno-Ekonomi adalah bidang keahlian yang memanfaatkan pendekatan teknik industri untuk peningkatan daya saing sistem integral yang terdiri atas tenaga kerja, bahan baku, energi, informasi, teknologi, dan infrastruktur yang berinteraksi dengan komunitas bisnis, masyarakat, dan pemerintah. Bidang keilmuan yang dipelajari di dalam Sistem Industri dan Tekno Ekonomi antara lain adalah Statistika Industri, Sistem Logistik, Logika Pemrograman, Operational Research, dan Sistem Basis Data

Jadi Teknik Industri bisa dimana saja yak…


Apa Itu Teknik Industri?

Secara klasik, mengingat lahirnya Teknik Industri adalah untuk melayani sektor manufaktur, maka bidang kerja dari lulusan teknik industri adalah pada jalur Production Officer hingga ke Director.

Deksripsi kerjanya adalah memastikan jalannya produksi dan operasi secara efisien dan efektif hingga mendapatkan sebuah sistem produksi atau operasi yang terbaik (excellence). Ini mencakup (walaupun tidak terbatas pada):

* evaluasi standard waktu kerja: Berapa waktu sesungguhnya dalam mengerjakan suatu urutan pekerjaan yang normal, dengan menyeimbangkan antara kemampuan manusia normal dg tuntutan organisasi.
* merancang bagaimana cara kerja manual terbaik: bagaimana memastikan sebuah desain kerja dapat mengoptimalkan kemampuan manusia dan hukum alam – memanfaatkan gravitasi misalnya.
* merancang dan memperbaiki layout baik dari pabrik maupun stasiun kerja: Bagaimana susunan dan urutan fasilitas kerja terbaik sehingga aliran barang atau proses bisa berjalan dengan tanpa hambatan atau berbelit-belit sehingga memakan waktu yang berharga. Facility Layout and Plant Designer
* penyusunan jadwal produksi dan pengadaan/pembelian dari setiap seluruh fasilitas produksi serta bagaimana menyimpannya: untuk memastikan bebas hambatannya proses produksi, tentunya anda harus memperhatikan bahwa semua material utama dan pendukung harus tersedia ketika produksi dilakukan. Jangan seperti masak di dapur untuk nasi goreng, ketika sudah mulai ternyata nasinya nggak cukup (atau masih dalam bentuk beras) – PPIC Officer/Manager – PPIC: Production Planing and Inventory Control.
* menjaga tingkat operasi dari setiap sumber daya (mesin, peralatan dsb) dalam kondisi optimal melalui manajemen pemeliharaan: (Maintenance Officer/Manager)
* menjamin mutu produk yang berasal dari mutu proses yang baik: (QA (Quality Assurance) Officer/Director)

Hal-hal diatas menjadi sebuah pekerjaan, yang hampir dapat dikatakan rutin, harus dilakukan dengan kecepatan perubahan produk yang saat ini terjadi. Dulu untuk merubah sebuah produk kita membutuhkan waktu 3-5 tahun, sekarang untuk produk-produk tertentu yang sarat dengan teknologi (HP/Mobile Phone), kita perlu mengubahnya dalam hitungan 1-2 tahun bahkan bulanan. Bayangkan anda harus memproduksi ribuan dan jutaan produk yang lama tetapi sudah mulai memproduksi ribuan produk baru dalam sebuah fasilitas produksi. Toyota terkenal dengan kemampuannya untuk memproduksi beberapa produk sekaligus dalam satu fasilitas. Artinya mobil kijang, corolla, dan lainnya, dirancang sedemikian rupa untuk menggunakan fasilitas yang sama.

Melebar ke Jasa. Tetapi seiring dengan kebutuhan akan hal yang sama terhadap efisiensi dan efektivitas dibidang industri lainnya, termasuk industri jasa, maka semakin berkembang pulalah ruang lingkup kerja Teknik Industri. Saat ini dari penelusuran yang dilakukan kepada para lulusan TI-UI, diketahui mereka lebih banyak bekerja di sektor jasa dibandingkan manufaktur. Hal ini diakibatkan memang kebutuhan akan efisiensi dan efektivitas ternyata tidak hanya dituntut di industri manufaktur, tetapi juga industri jasa.

Jabatan yang sering diambil menyangkut QA (Quality Assurance), Business Excellence Team, Standard and Procedure Development Officers, dan Pemasaran, Operations Officer hingga Directors – (Kata Operations menggantikan kata Productions karena dalam dunia jasa memproduksi jasa merupakan sebuah konsep operasi). Mereka terserap di perbankan, stasiun televisi, telekomunikasi, teknologi informasi, pemerintahan, konsultan, asuransi, energi, rumah sakit, pendidikan dan sebagainya.

Kembali, kebutuhan akan efisiensi dan efektivitas sebenarnya ada disemua sektor industri. Kata industri bahkan diletakkan untuk menjelaskan industri pendidikan, industri pariwisata dan industri telekomunikasi. Tergantung dari para alumni teknik industri untuk mendefinisikan dan menterjemahkan kemampuan mereka untuk bekerja multisistem, multifungsi dan multipendekatan terhadap sektor-sektor industri baru. Saya sudah mengimplementasikan pendekatan dan ilmu teknik industri di bidang pemerintahan (yang paling sering dituding tidak efisien dan efektif) dan rumah sakit. Di negara referensi Teknik Industri, Amerika, melalui lembaga profesi Institute of Industrial Engineers – http://www.iienet.org, terlihat bahwa alumni TI disana dibagi menjadi beberapa perkumpulan mencakup perkumpulan sistem kesehatan (SHS – Society of Health Systems), SEMS (Society of Engineering and Management Science), Engineering Economy, Quality and Reliability Management, Operations Excellence dan lainnya.

Bukannya bidang-bidang tersebut sudah ada ahlinya? Tentu saja, dan jika berbicara keahlian spesialisasi memang demikian. Tetapi trend saat ini adalah pendekatan yang multidisiplin dan multidimensi lebih dibutuhkan, mengingat meningkatnya kompleksitas dari permasalahan. Keunggulan inilah yang ditawarkan oleh Teknik Industri, yang secara kurikulum menekankan terhadap pendekatan multidisiplin ini, ditambah dengan kemampuan perancangan (design capability) dengan latar belakang keteknikan kuat. Latar belakang keteknikan inilah yang menguatkan kemampuan mengembangkan metodologi yang logis dan terstruktur, dibandingkan dengan bidang ilmu lainnya.


Awal mula Teknik Industri dapat ditelusuri dari beberapa sumber berbeda. Frederick Winslow Taylor sering ditetapkan sebagai Bapak Teknik Industri meskipun seluruh gagasannya tidak asli. Beberapa risalah terdahulu mungkin telah mempengaruhi perkembangan Teknik Industri seperti risalah The Wealth of Nations karya Adam Smith, dipublikasikan tahun 1776; Essay on Population karya Thomas Malthus dipublikasikan tahun 1798; Principles of Political Economy and Taxation karya David Ricardo, dipublikasikan tahun 1817; dan Principles of Political Economy karya John Stuart Mill, dipublikasikan tahun 1848. Seluruh hasil karya ini mengilhami penjelasan paham Liberal Klasik mengenai kesuksesan dan keterbatas dari Revolusi Industri. Adam Smith adalah ekonom yang terkenal pada zamannya. “Economic Science” adalah frasa untuk menggambarkan bidang ini di Inggris sebelum industrialisasi America muncul .

Kontribusi penting lainnya dan mengilhami Taylor adalah Charles W. Babbage. Babbage adalah profesor ahli matematika di Cambridge University. Salah satu kontribusi pentingnya adalah buku yang berjudul On the Economy of Machinery and Manufacturers tahun 1832 yang mendiskusikan banyak topik menyangkut manufaktur. Babbage mendiskusikan gagasan tentang Kurva Belajar (Learning Curve), pembagian tugas dan bagaimana proses pembelajaran dipengaruhi, dan efek belajar terhadap peningkatan pemborosan. Dia juga sangat tertarik pada metode pengaturan pemborosan. Charles Babbage adalah orang pertama yang menganjurkan membangun komputer mekanis. Dia menyebutnya “analytical calculating machine” , untuk tujuan memecahkan masalah matematika yang kompleks.

Di Amerika Serikat selama akhir abad 19 telah terjadi perkembangan yang mempengaruhi pembentukan Teknik Industri. Henry R. Towne menekankan aspek ekonomi terhadap pekerjaan insinyur yakni bagaimana seorang insinyur akan meningkatkan laba perusahaan? Towne kemudian menjadi anggota American Society of Mechanical Engineers (ASME) sebagaimana yang dilakukan beberapa pendahulunya di bidang Teknik Industri. Towne menekankan perlunya mengembangkan suatu bidang yang terfokus pada sistem manufactur. Dalam Industrial Engineering Handbook dikatakan bahwa “ASME adalah tempat berkembang biaknya Teknik Industri”. Towne bersama Fredrick A. Halsey bekerja mengembangkan dan memaparkan suatu Rencana Kerja untuk mengurangi pemborosan kepada ASME. Tujuan Recana ini adalah meningkatkan produktivitas pekerja tanpa berpengaruh negatif terhadap ongkos produksi. Rencana ini juga menganjurkan bahwa sebagian keuntungan dapat dibagikan kepada pekerja dalam bentuk insentif.

Henry L. Gantt (juga anggota ASME) menekankan pentingnya seleksi karyawan dan pelatihannya. Dia, seperti juga Towne dan Halsey, memaparkan paper dengan topik-topik seperti biaya, seleksi karyawan, pelatihan, skema insentif, dan penjadwalan kerja. Dia adalah pencipta Diagram Gantt (Gantt chart), yang saat ini merupakan diagram yang sangat populer digunakan dalam penjadwalan kerja. Sampai sekarang Gantt chart digunakan dalam bidang statitik untuk membuat prediksi yang akurat. Jenis diagram lainnya telah dikembangkan untuk tujuan penjadwalan seperti Program Evaluation and Review Technique (PERT) dan Critical Path Mapping (CPM).

Sejarah Teknik Industri tidak lengkap tanpa menyebut Frederick Winslow Taylor. Taylor mungkin adalah pelopor Teknik Industri yang paling terkenal. Dia mempresentasikan gagasan mengenai pengorganisasian pekerjaan dengan menggunakan manajemen kepada seluruh anggota ASME. Dia menciptakan istilah “Scientific Management” untuk menggambarkan metode yang dia bangun melalui studi empiris. Kegiatannya, seperti yang lainnya, meliputi topik-topik seperti pengorganisasian pekerjaan dengan manajemen, seleksi pekerja, pelatihan, dan kompensasi tambahan bagi seluruh individu yang memenuhi standar yang dibuat perusahaan. Scientific Management memiliki efek yang besar terhadap Revolusi Industri, baik di Amerika maupun di luar negara Amerika.

Keluarga Gilbreth diakui akan pengembangan terhadap Studi Waktu dan Gerak (Time and Motion Studies). Frank Bunker Gilbreth dan istrinya Dr. Lillian M. Gilbreth melakukan penelitian mengenai Pemahaman Kelelahan (Fatigue), Skill Development, Studi Gerak (Motion Studies), dan Studi Waktu (Time Studies). Lillian Gilbreth memeliki gelasr Ph.D. dalam bidang Psikologi yang membantunya dalam memahami masalah-masalah manusia. Keluarga Gilbreth meyakini bahwa terdapat satu cara terbaik (“one best way”) untuk melakukan pekerjaan. Salah satu pemikiran mereka yang siginifikan adalah pengklasifikasian gerakan dasar manusia ke dalam 17 macam, dimana ada gerakan yang efektif dan ada yang tidak efektif. Mereka menamakannya Tabel Klasifikasi Therbligs (ejaan terbalik dari kata Gilbreth). Gilbreth menyimpulkan bahwa waktu untuk menyelesaikan gerakan yang efektif (effective therblig) lebih singkat tetapi sulit untuk dikurangi, demikian sebaliknya dengan non-effective therbligs. Gilbreth mengklaim bahwa setiap bentuk pekerjaan dapat dipisah-pisah ke dalam bentuk pekerjaan yang lebih sederhana.

Saat Amerika Serikat menghadapi Perang Dunia II, secara diam-diam pemerintah mendaftarkan para ilmuwan untuk meneliti perencanaan, metode produksi, dan logistik dalam perang. Para ilmuwan ini mengembangkan sejumlah teknik untuk pemodelan dan memprediksi solusi optimal. Lebih lanjut saat informasi ini terbongkar. lahirlah Operation Research. Banyak hasil penelitian yang masih sangat teoritis dan pemahaman bagaimana menggunakannya dalam dunia nyata tidak ada. Hal inilah yang menyebabkan jurang antara kelompok Operation Research (OR) dan profesi insinyur terlalu lebar. hanya sedikit perusahaan yang dengan sigap membentuk departemen Operation Research dan mengkapitalisasikannya.

Pada 1948 sebuah komunitas baru, American Institute for Industrial Engineers (AIIE), dibuka untuk pertama kalinya. Pada masa ini Teknik Industri benar-benar tidak mendapat tempat yang khusus dalam struktur perusahaan. Selama tahun 1960 dan sesudahnya, beberapa perguruan tinggi mulai mengadopsi teknik-teknik operation research dan menambahkannya pada kurikulum Teknik Industri. Sekarang untuk pertama kalinya metode-metode Teknik Industri disandarkan pada fondasi analisa, termasuk metode empiris terdahulu lainnya. Pengembangan baru terhadap optimisasi dalam matematika sebagaimana metode baru dalam analisa statistik membantu dalam mengisi lubang kosong bidang Teknik Industri dengan pendekatan teoritis.

Kemudian, permasalahan Teknik Industri menjadi begitu besar dan kompleks pada dan saat komputer digital berkembang. Dengan komputer digital dan kemampuannya menyimpan data dalam jumlah besar, insinyur Teknik Industri memiliki alat baru untuk mengkalkulasi permasalahan besar secara cepat. Sebelumnya komputasi pada suatu sistem memakan mingguan bahkan bulanan, tetapi dengan komputer dan perkembangan sub-program “sub-routines”, perhitungan dapat dilakukan dalam hitungan menit dan dengan mudah dapat diulangi terhadap kriteria problem yang baru. Dengan kemampuannya menyimpan data, hasil perhitungan pada sistem sebelumnya dapat disimpan dan dibandingkan dengan informasi baru. Data-data ini membuat Teknik Industri menjadi cara yang kuat dalam mempelajari sistem produksi dan reaskinya bila terjadi perubahan.

Di Indonesia

Sejarah Teknik Industri di Indonesia di awali dari kampus Institut Teknologi Bandung. Sejarah pendirian pendidikan Teknik Industri di ITB tidak terlepas dari kondisi praktek sarjana mesin pada tahun lima-puluhan. Pada waktu itu, profesi sarjana Teknik mesin merupakan kelanjutan dari profesi pada jaman Belanda, yaitu terbatas pada pekerjaan pengoperasian dan perawatan mesin atau fasilitas produksi. Barang-barang modal itu sepenuhnya diimpor, karena di Indonesia belum terdapat pabrik mesin.

Di Universitas Indonesia (www.ui.edu), keilmuan Teknik Industri telah dikenalkan pada awal tahun tujuh puluhan, dan merupakan sub bagian dari keilmuan Teknik Mesin. Sejak 30 Juni 1998, diresmikanlah Jurusan Teknik Industri (sekarang Departemen Teknik Industri) Fakultas Teknik Universitas Indonesia, situs resminya di http://www.ie.ui.ac.id/

Kalau pada masa itu, dijumpai bengkel-bengkel tergolong besar yang mengerjakan pekerjaan perancangan konstruksi baja seperti yang antara lain terdapat di kota Pasuruan dan Klaten, pekerjaan itu pun masih merupakan bagian dari kegiatan perawatan untuk mesin-mesin pabrik gula dan pabrik pengolahan hasil perkebunan yang terdapat di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Dengan demikian kegiatan perancangan yang dilakukan oleh para sarjana Teknik Mesin pada waktu itu masih sangat terbatas pada perancangan dan pembuatan suku-suku cadang yang sederhana berdasarkan contoh-contoh barang yang ada. Peran yang serupa bagi sarjana Teknik Mesin juga terjadi di pabrik semen dan di bengkel-bengkel perkereta-apian.

Pada saat itu, dalam menjalankan profesi sebagai sarjana Teknik Mesin dengan tugas pengoperasian mesin dan fasilitas produksi, tantangan utama yang mereka hadapi ialah bagaimana agar pengoperasian itu dapat diselenggarakan dengan lancar dan ekonomis. Jadi fokus pekerjaan sarjana Teknik Mesin pada saat itu ialah pengaturan pembebanan pada mesin-mesin agar kegiatan produksi menjadi ekonomis, dan perawatan (maintenance) untuk menjaga kondisi mesin supaya senantiasa siap pakai.

Pada masa itu, seorang kepala pabrik yang umumnya berlatar-belakang pendidikan mesin, sangat ketat dan disiplin dalam pengawasan terhadap kondisi mesin. Di pagi hari sebelum pabrik mulai beroperasi, ia keliling pabrik memeriksa mesin-mesin untuk menyakini apakah alat-alat produksi dalam keadaan siap pakai untuk dibebani suatu pekerjaan.

Pengalaman ini menunjukan bahwa pengetahuan dan kemampuan perancangan yang dipunyai oleh seorang sarjana Teknik Mesin tidak banyak termanfaatkan, tetapi mereka justru memerlukan bekal pengetahuan manajemen untuk lebih mampu dan lebih siap dalam pengelolaan suatu pabrik dan bengkel-bengkel besar.

Sekitar tahun 1955, pengalaman semacam itu disadari benar keperluannya, sehingga sampai pada gagasan perlunya perkuliahan tambahan bagi para mahasiswa Teknik Mesin dalam bidang pengelolaan pabrik.

Pada tahun yang sama, orang-orang Belanda meninggalkan Indonesia karena terjadi krisis hubungan antara Indonesia-Belanda, sebagai akibatnya, banyak pabrik yang semula dikelola oleh para administratur Belanda, mendadak menjadi vakum dari keadministrasian yang baik. Pengalaman ini menjadi dorongan yang semakin kuat untuk terus memikirkan gagasan pendidikan alternatif bidang keahlian di dalam pendidikan Teknik Mesin.

Pada awal tahun 1958, mulai diperkenalkan beberapa mata kuliah baru di Departemen Teknik Mesin, diantaranya : Ilmu Perusahaan, Statistik, Teknik Produksi, Tata Hitung Ongkos dan Ekonomi Teknik. Sejak itu dimulailah babak baru dalam pendidikan Teknik Mesin di ITB, mata kuliah yang bersifat pilihan itu mulai digemari oleh mahasiswa Teknik Mesin dan juga Teknik Kimia dan Tambang.

Sementara itu pada sekitar tahun 1963-1964 Bagian Teknik Mesin telah mulai menghasilkan sebagian sarjananya yang berkualifikasi pengetahuan manajemen produksi/teknik produksi. Bidang Teknik Produksi semakin berkembang dengan bertambahnya jenis mata kuliah. Mata kuliah seperti : Teknik Tata Cara, Pengukuran Dimensional, Mesin Perkakas, Pengujian Tak Merusak, Perkakas Pembantu dan Keselamatan Kerja cukup memperkaya pengetahuan mahasiswa Teknik Produksi.

Pada tahun 1966 – 1967, perkuliahan di Teknik Produksi semakin berkembang. Mata kuliah yang berbasis teknik industri mulai banyak diperkenalkan. Sistem man-machine-material tidak lagi hanya didasarkan pada lingkup wawasan manufaktur saja, tetapi pada lingkup yang lebih luas yaitu perusahaan dan lingkungan. Dalam pada itu, di Departemen ini mulai diajarkan mata kuliah : Manajemen Personalia, Administrasi Perusahaan, Statistik Industri, Perancangan Tata Letak Pabrik, Studi Kelayakan, Penyelidikan Operasional, Pengendalian Persediaan Kualitas Statistik dan Programa Linier. Sehingga pada tahun 1967, nama Teknik Produksi secara resmi berubah menjadi Teknik Industri dan masih tetap bernaung di bawah Bagian Teknik Mesin ITB.

Pada tahun 1968 – 1971, dimulailah upanya untuk membangun Departemen Teknik Industri yang mandiri. Upaya itu terwujud pada tanggal 1 Januari 1971.

Teknik Industri ITS

Seiring dengan perkembangan disiplin ilmu Teknik Industri dan semakin banyaknya tuntutan akan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan dalam bidang perindustrian yang merupakan konsekuensi dari arah pembangunan nasional Indonesia, maka dirasakan perlu berdiri sebuah jurusan/ program studi Teknik Industri selain jurusan Teknik Industri yang ada di ITB. Oleh sebab itulah pada tahun 1984 ITS membentuk sebuah Tim Program Studi Teknik Industri yang bertugas mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan pembukaan Program Studi Teknik Industri ITS. Tim tersebut terdiri atas Ir. Sritomo Wignjosoebroto, M.Sc. (Teknik Mesin/ Ketua Tim), yang beranggotakan antara lain adalah Dr. Ir. Suparno, MSIE. (Teknik Mesin), Ir. Soewarso, MSc. (Teknik Fisika), Drs. Haryono, MSc. (Statistik) dan Drs. Slamet Mulyono, MSc., Ph.D. (Statistik). Pembentukan tim ini tertuang dalam SK Dekan FTI no. 1023/PT12.5/Q/1984.

Pada tahun 1985, berdasarkan SK Dirjen DIKTI No. 048/DJ/Kep/1985, berdirilah program studi Teknik Industri yang berada dibawah Fakultas Teknologi Industri. Selama kurun waktu 1985 – 1992 kegiatan akademik program studi Teknik Industri berlangsung di Jurusan Teknik Mesin dan antara 1992 – 1994 berlangsung di Gedung Workshop ITS. Baru pada tahun 1994 program studi Teknik Industri mendapat gedung baru yang ditempati secara bersama-sama dengan program studi Teknik Komputer. Selanjutnya berdasarkan Sk Dirjen DIKTI No. 89/DIKTI/Kep/1996 yang dikeluarkan pada tahun 996, program studi Teknik Industri berubah menjadi jurusan Teknik Industri. Kemudian pada bulan Agustus pada bulan Agustus 1999 jurusan Teknik Industri menempati gedung baru yang dipergunakan untuk mendukung kegiatan administrasi dan kegiatan perkuliahan. Dan pada tanggal 19 Agustus 2000 jurusan Teknik Industri telah mendapatkan akreditasi A sesuai sertifikat nomor : 03654/Ak-I-III-020/ITSTKI/VIII/2000.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Teknik_industri & http://www.ie.its.ac.id/sejarah.php


Mengenal Tower

10Sep08

Tower adalah menara yang terbuat dari rangkaian besi atau pipa baik segi empat atau segi tiga, atau hanya berupa pipa panjang (tongkat), yang bertujuan untuk menempatkan antenna dan radio pemancar maupun penerima gelombang telekomunikasi dan informasi.

Tower BTS (Base Transceiver System) sebagai sarana komunikasi dan informatika, berbeda dengan tower SUTET (Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi) Listrik PLN dalam hal konstruksi, maupun resiko yang ditanggung penduduk di bawahnya. Tower BTS komunikasi dan informatika memiliki derajat keamanan tinggi terhadap manusia dan mahluk hidup di bawahnya, karena memiliki radiasi yang sangat kecil sehingga sangat aman bagi masyarakat di bawah maupun disekitarnya.

Tipe Tower jenis ini pada umumnya 3 macam,
1) Tower dengan 4 kaki, atau tower pipa besar (diameter pipa 30 cm keatas) (tanpa kawat spanner).
2) Tower segitiga yang dikokohkan dengan tali pancang/spanner.
3) Pipa besi yang dikuatkan dengan tali spanner.

Tower dengan 4 kaki sangat jarang dijumpai roboh, karena memiliki kekuatan tiang pancang serta sudah dipertimbangkan konstruksinya. Tipe ini mahal biayanya (650 juta hingga 1 milyar rupiah), namun kuat dan mampu menampung banyak antenna dan radio. Tipe tower ini banyak dipakai oleh perusahaan-perusahaan bisnis komunikasi dan informatika yang bonafid. (Indosat, Telkom, Xl, dll).
Tower Segitiga disarankan untuk memakai besi dengan diameter 2 cm ke atas. Beberapa kejadian robohnya tower jenis ini karena memakai besi dengan diameter di bawah 2 cm. Ketinggian maksimal tower jenis ini yang direkomendasi adalah 60 meter. Ketinggian rata-rata adalah 40 meter.
Tower jenis ini disusun atas beberapa stage (potongan). 1 stage ada yang 4 meter namun ada yang 5 meter. Makin pendek stage maka makin kokoh, namun biaya pembuatannya makin tinggi, karena setiap stage membutuhkan tali pancang/spanner. Jarak patok spanner dengan tower minimal 8 meter. Makin panjang makin baik, karena ikatannya makin kokoh, sehingga tali penguat tersebut tidak makin meruncing di tower bagian atas.
Tower jenis ketiga lebih cenderung untuk dipakai secara personal. Tinggi tower pipa ini sangat disarankan tidak melebihi 20 meter (lebih dari itu akan melengkung). Teknis penguatannya dengan spanner. Kekuatan pipa sangat bertumpu pada spanner. Sekalipun masih mampu menerima sinyal koneksi, namun tower jenis ini tidak direkomedasi untuk penerima sinyal informatika (internet dan intranet) yang stabil, karena jenis ini mudah bergoyang dan akan mengganggu sistem koneksi datanya, sehingga komputer akan mencari data secara terus menerus (searching). Tower ini bisa dibangun pada areal yang dekat dengan pusat transmisi/ NOC = Network Operation Systems (maksimal 2 km), dan tidak memiliki angin kencang, serta benar-benar diproyeksikan dalam rangka emergency biaya. Dari berbagai fakta yang muncul di berbagai daerah, keberadaan Tower memiliki resistensi/daya tolak dari masyarakat, yang disebabkan isu kesehatan (radiasi, anemia dll), isu keselamatan hingga isu pemerataan sosial. Hal ini semestinya perlu disosialisasikan ke masyarakat bahwa kekhawatiran pertama (ancaman kesehatan) tidaklah terbukti. Radiasinya jauh diambang batas toleransi yang ditetapkan WHO. Tower BTS terendah (40 meter) memiliki radiasi 1 watt/m2 (untuk pesawat dengan frekuensi 800 MHz) s/d 2 watt/m2 (untuk pesawat 1800 MHz). Sedangkan standar yang dikeluarkan WHO maximal radiasi yang bisa ditolerir adalah 4,5 (800 MHz) s/d 9 watt/m2 (1800 MHz).
Sedangkan radiasi dari radio informatika/internet (2,4 GHz) hanya sekitar 3 watt/m2 saja. Masih sangat jauh dari ambang batas WHO 9 watt/m2.
Radiasi ini makin lemah apabila tower makin tinggi. Rata-rata tower seluler yang dibangun di Indonesia memiliki ketinggian 70 meter.
Dengan demikian radiasinya jauh lebih kecil lagi. Adapun mengenai isu mengancam keselamatan (misal robohnya tower), dapat diatasi dengan penerapan standar material, dan konstruksinya yang benar, serta pewajiban perawatan tiap tahunnya.

Sejarah Menara

Secara historis, keberadaan menara telekomunikasi sudah ada di Amerika Utara sejak akhir abad ke-19 yang dibangun oleh Prancis di berbagai pelabuhan Amerika dan digunakan untuk layanan telegrap. Sebagai contoh, penemuan layanan telegrap oleh Samuel Morse pada 1844 telah menggunakan tower yang tingginya berkisar 30 kaki dan dibangun di sepanjang jalan yang menghubungkan seluruh negara bagian Amerika. Selanjutnya, penemuan sistem komunikasi tanpa kabel oleh Guglielmo Marconi pada 1899 telah mewarnai penggunaan tower telepon dan telegrap di kota-kota besar Amerika. Awal abad ke-20, pembangunan menara semakin masif berkat penemuan teknologi telepon dan telegrap tanpa kabel untuk layanan komunikasi berbasis frekuensi radio. Namun fenomena ini ditentang masyarakat dengan alasan keberadaan tower-tower yang semakin tinggi dan menjamur tersebut berdampak mengurangi keindahan lingkungan dan menimbulkan gangguan (interferensi) pada siaran radio dan televisi.  Sejak itu, pertumbuhan dan ketinggian tower mulai berkurang yang pada gilirannya memicu regulator untuk menetapkan kebijakan penggunaan tower telekomunikasi secara bersama dengan penampilan yang lebih estetis.


Profesi merupakan pekerjaan atau jabatan yang dipegang seorang.

Profesional penampilan seseorang dalam mewujudkan unjuk kerja sesuai dengn profesinya.

Profesionalisme merupakan sikap mental dalam bentuk komitmen dari para anggota suatu profesi untuk senantiasa mewujudkan dan meningkatkan kualitas profesionalnya.

Profesionalitas adalah sutu sebutan terhadap kualitas sikap para anggota suatu profesi terhadap profesinya serta derajat pengetahuan dan keahlian yang mereka miliki untuk dapat melakukan tugas-tugasnya.

Profesionalisasi adalah sutu proses menuju kepada perwujudan dan peningkatan profesi dalam mencapai suatu kriteria yang sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.


Wawancara Kerja

09Sep08

Wawancara kerja saat ini merupakan salah satu cara yang sangat
populer sebagai salah satu metode untuk menyeleksi karyawan. Bagi
perusahaan-perusahaan kecil dan menengah wawancara kerja seringkali
merupakan metode yang paling diandalkan, mengingat biaya yang
dikeluarkan relatif murah dan “user” (baca: atasan) dapat langsung
bertatap muka dengan si pelamar. Bahkan pada jabatan tertentu
wawancara kerja bisa dilakukan berkali-kali, sebelum calon karyawan
diputuskan untuk diterima bekerja. Sementara bagi para pencari kerja,
wawancara kerja mungkin sudah dianggap sebagai “menu sehari-hari”
yang harus dilalui sebelum resmi diterima bekerja. Anehnya, meskipun
sudah memahami betul bahwa wawancara merupakan suatu hal yang biasa
dilalui dalam melamar pekerjaan, banyak sekali para pelamar yang
tidak siap untuk menghadapi wawancara kerja. Tidak jarang mereka
merasa langsung gugup bahkan patah semangat ketika dipanggil untuk
wawancara, karena sudah seringkali gagal. Forum konseling dalam
website ini banyak dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang
menyangkut bagaimana cara menghadapi wawancara kerja. Para penanya
tersebut banyak yang menceritakan bahwa mereka telah berkali-kali
gagal “melewati” wawancara kerja meskipun diakui bahwa pertanyaan-
pertanyaan yang diajukan oleh “recruiter” (petugas rekrutmen &
seleksi) relatif sama antara perusahaan yang satu dengan perusahaan
yang lain tempat mereka melamar pekerjaan. Ada juga penanya yang
mengatakan bahwa ia berkali-kali selalu lolos dari semua metode
seleksi yang lain (test tertulis, psiko test, dan test ketrampilan)
tetapi tetap gagal ketika wawancara.

Permasalahan diatas menggelitik saya untuk mencari tahu lebih jauh
apa sebenarnya wawancara kerja. Mengapa wawancara kerja ini penting
dilakukan dan mengapa banyak pelamar yang gagal dalam menjalani
wawancara kerja tersebut. Lalu kemudian apa saja yang harus dilakukan
oleh para pelamar untuk menyiasati wawancara kerja supaya berhasil.

Tujuan Wawancara Kerja

Wawancara kerja (job interview) saat ini merupakan salah satu aspek
penting dalam proses rekrutmen dan seleksi karyawan. Meskipun
validitas wawancara dianggap lebih rendah jika dibandingkan dengan
metode seleksi yang lain seperti psiko test, namun wawancara memiliki
berbagai kelebihan yang memudahkan petugas seleksi dalam
menggunakannya.

Apapun penilaian pelamar (calon karyawan), wawancara kerja sebenarnya
memberikan suatu kesempatan atau peluang bagi pelamar untuk mengubah
lowongan kerja menjadi penawaran kerja. Mengingat bahwa wawancara
kerja tersebut merupakan suatu proses pencarian pekerjaan yang
memungkinkan pelamar untuk memperoleh akses langsung ke perusahaan
(pemberi kerja), maka “performance” (baca: proses & hasil) wawancara
kerja merupakan suatu hal yang sangat krusial dalam menentukan apakah
pelamar akan diterima atau ditolak.

Bagi si pelamar, wawancara kerja memberikan kesempatan kepadanya
untuk menjelaskan secara langsung pengalaman, pengetahuan,
ketrampilan, dan berbagai faktor lainnya yang berguna untuk
meyakinkan perusahaan bahwa dia layak (qualified) untuk melakukan
pekerjaan (memegang jabatan) yang ditawarkan. Selain itu wawancara
kerja juga memungkinkan pelamar untuk menunjukkan kemampuan
interpersonal, professional, dan gaya hidup atau kepribadian
pelamar. Jika di dalam CV (Curriculum Vitae) pelamar hanya bisa
mengklaim bahwa dirinya memiliki kemampuan komunikasi dan
interpersonal yang baik, maka dalam wawancara dia diberi kesempatan
untuk membuktikannya.

Bagi perusahaan, wawancara kerja merupakan salah satu cara untuk
menemukan kecocokan antara karakteristik pelamar dengan dengan
persyaratan jabatan yang harus dimiliki pelamar tersebut untuk
memegang jabatan / pekerjaan yang ditawarkan. Secara umum tujuan dari
wawancara kerja adalah:

· Untuk mengetahui kepribadian pelamar
· Mencari informasi relevan yang dituntut dalam persyaratan jabatan
· Mendapatkan informasi tambahan yang diperlukan bagi jabatan dan
perusahaan

Membantu perusahaan untuk mengidentifikasi pelamar-pelamar yang layak
untuk diberikan penawaran kerja.

Teknik Wawancara Kerja

Dua teknik wawancara yang biasa dipergunakan perusahaan dalam
melakukan wawancara kerja adalah wawancara kerja tradisional dan
wawancara kerja behavioral. Dalam prakteknya perusahaan seringkali
mengkombinasikan kedua teknik ini untuk memperoleh data yang lebih
akurat.

·Wawancara kerja tradisional menggunakan pertanyaan-pertanyaan
terbuka seperti “mengapa anda ingin bekerja di perusahaan ini”,
dan “apa kelebihan dan kekurangan anda”. Kesuksesan atau kegagalan
dalam wawancara tradisional akan sangat tergantung pada kemampuan si
pelamar dalam berkomunikasi menjawab pertanyaan-pertanyaan, daripada
kebenaran atau isi dari jawaban yang diberikan. Selain itu pertanyaan-
pertanyaan yang diajukan lebih banyak bersifat mengklarifikasikan apa
yang ditulis dalam surat lamaran dan CV pelamar. Dalam wawancara
kerja tradisional, recruiter biasanya ingin menemukan jawaban atas 3
(tiga) pertanyaan: apakah si pelamar memiliki pengetahuan,
ketrampilan dan kemampuan untuk melakukan pekerjaan, apakah si
pelamar memiliki antusias dan etika kerja yang sesuai dengan harapan
recruiter, dan apakah si pelamar akan bisa bekerja dalam team dan
memiliki kepribadian yang sesuai dengan budaya perusahaan.

Wawancara kerja behavioral didasarkan pada teori bahwa “performance”
(kinerja) di masa lalu merupakan indikator terbaik untuk meramalkan
perilaku pelamar di masa mendatang). Wawancara kerja dengan teknik
ini sangat sering digunakan untuk merekrut karyawan pada level
managerial atau oleh perusahaan yang dalam operasionalnya sangat
mengutamakan masalah-masalah kepribadian. Wawancara kerja behavioral
dimaksudkan untuk mengetahui respon pelamar terhadap suatu kondisi
atau situasi tertentu sehingga pewawancara dapat melihat bagaimana
pelamar memandang suatu tantangan/permasalahan dan menemukan
solusinya. Pertanyaan-pertanyaan yang biasanya diajukan antara
lain: “coba anda ceritakan pengalaman anda ketika gagal mencapai
target yang ditetapkan”, dan “berikan beberapa contoh tentang hal-hal
apa yang anda lakukan ketika anda dipercaya menangani beberapa proyek
sekaligus”. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut si pelamar
perlu mempersiapkan diri untuk mengingat kembali situasi, tindakan
dan hasil yang terjadi pada saat yang lalu. Selain itu, sangat
penting bagi pelamar untuk memancing pertanyaan-pertanyaan lebih
lanjut dari pewawancara agar dapat menjelaskan secara rinci gambaran
situasi yang dihadapinya. Untuk itu diperlukan ketrampilan
berkomunikasi yang baik dari si pelamar. Keberhasilan atau kegagalan
dalam wawancara ini sangat tergantung pada kemampuan pelamar dalam
menggambarkan situasi yang berhubungan dengan pertanyaan pewawancara
secara rinci dan terfokus. Dalam wawancara kerja behavioral, si
pelamar harus dapat menyusun jawaban yang mencakup 4 (empat) hal:
(1) menggambarkan situasi yang terjadi saat itu, (2) menjelaskan
tindakan-tindakan yang diambil untuk merespon situasi yang terjadi,
(3) menceritakan hasil yang dicapai, dan (4) apa hikmah yang dipetik
dari kejadian tersebut (apa yang dipelajari).

Jenis Wawancara Kerja

Dalam dunia kerja, dikenal beberapa tipe wawancara kerja sebagai
berikut:

Wawancara Seleksi (Screening Interview). Jika pelamar atau kandidat
untuk menduduki jabatan berjumlah lebih dari satu orang maka
dilakukan wawancara kerja untuk menyeleksi siapa diantara kandidat
tersebut merupakan kandidat yang paling qualified sehingga bisa
dilanjutkan ke tahap seleksi berikutnya. Wawancara seleksi biasanya
berlangsung singkat antara 15 – 30 menit.

· Wawancara Telepon (Telephone Interview). Demi menghemat biaya
dan efisiensi waktu, banyak recruiter yang melakukan wawancara kerja
melalui telepon. Oleh sebab itu, pelamar harus siap dihubungi sewaktu-
waktu, sebab seringkali recruiter tidak memberikan pilihan bagi
pelamar untuk menentukan waktu kapan ia siap diwawancarai melalui
telepon.

· Wawancara di Kampus / Sekolah (On-Campus Interview) . Meskipun
tidak banyak perusahaan yang melakukan wawancara kerja di kampus,
namun untuk perusahaan-perusahaan tertentu yang mencari para lulusan
untuk dilatih lebih lanjut, cara ini dinilai sangat efektif karena
memberikan akses bagi perusahaan tersebut untuk mendapatkan kandidat
terbaik yang mungkin sangat sulit diperoleh jika menunggu para
kandidat tersebut datang melamar.

· Wawancara di Pameran Kerja (Job Fair Interview). Pameran
kerja diadakan untuk menjembatani perusahaan dengan para pencari
kerja. Pada pameran kerja biasanya, perusahaan memberikan berbagai
informasi mengenai perusahaannya, menerima surat lamaran dan CV dari
pengunjung (pencari kerja), bahkan tidak jarang para recruiter
langsung melakukan wawancara di stand (booth) mereka. Di Indonesia
memang pameran seperti ini masih sangat jarang dilaksanakan jika
dibandingkan dengan pameran otomotif, rumah maupun furniture.

Wawancara di Lokasi Kerja (On-Site Interview). Ketika seorang
kandidat telah lolos dalam tahap wawancara seleksi, seringkali
perusahaan mengundang kandidat tersebut untuk melihat secara langsung
lokasi kerja. Pada kesempatan tersebut recruiter biasanya langsung
melakukan wawancara secara mendalam. Bagi pelamar yang belum memiliki
pengalaman kerja pada lokasi yang lingkungannya kurang lebih sama,
wawancara kerja di lokasi mungkin bisa terasa menakutkan karena
mungkin harus melakukan perjalanan dan berada di wilayah yang tidak
ia kenal.

· Wawancara Kelompok (Panel or Group Interview). Wawancara
kelompok adalah suatu jenis wawancara kerja dimana para pewawancara
(recruiter) terdiri dari 2 (dua) orang atau lebih. Biasanya wawancara
jenis ini dilakukan jika perusahaan memandang bahwa pelamar sudah
hampir memenuhi syarat untuk diterima bekerja. Biasanya para penanya
dalam wawancara inilah yang memiliki wewenang untuk memutuskan apakah
pelamar akan diterima bekerja atau tidak.

Wawancara Kasus (Case Interview). Wawancara kerja jenis ini
menekankan pada kemampuan analisis dan pemecahan masalah terhadap
suatu kasus tertentu. Biasanya dalam wawancara kasus, pelamar diminta
untuk berperan sebagai pemegang jabatan yang ditawarkan, lalu
diberikan sebuah kasus untuk dicarikan solusinya.

Pertanyaan-Pertanyaan Umum

Pada umumnya pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam wawancara
kerja sangat tergantung pada teknik apa yang digunakan oleh si
pewawancara. Jika menggunakan teknik wawancara kerja tradisional maka
pertanyaan-pertanyaan yang seringkali diajukan adalah sebagai berikut:

Jelaskan pada saya bagaimana anda menggambarkan diri anda?
· Apa kelebihan dan kekurangan anda?
· Apa saja prestasi yang pernah anda raih pada pekerjaan yang
terdahulu / ketika sekolah?
· Mengapa anda berhenti dari perusahaan yang lalu?
· Apa tugas-tugas anda pada pekerjaan yang lalu?
· Darimana anda mengetahui perusahaan ini?
· Mengapa anda tertarik untuk bekerja di perusahaan ini?
· Jika anda diterima bekerja untuk jabatan ini, apa yang akan
anda lakukan?
· Apa itu professionalisme menurut anda?
· Apa itu teamwork menurut anda?
. Apa hoby anda?

Dalam wawancara yang menggunakan teknik wawancara kerja behavioral,
maka pertanyaan-pertanyaan di atas seringkali ditambahkan dengan
pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:
· Ceritakan pada saya/kami kapan anda mengalami suatu situasi
yang sangat tidak menyenangkan dan bagaimana anda berhasil keluar
dari situasi tersebut.
· Ceritakan pada saya/kami bagaimana anda meyakinkan klien
anda ketika anda melakukan presentasi.
· Coba anda ceritakan bagaimana anda mengatasi situasi dimana
anda harus melakukan banyak tugas dan anda harus membuat prioritas
tugas mana yang harus didahulukan.
· Bisakah anda ceritakan keputusan apa yang paling sulit anda
buat dalam setahun terakhir ini? Mengapa demikian?
· Ceritakan mengapa team anda gagal mencapai target pada
tahun sebelumnya dan bagaimana anda memotivasi team tersebut sehingga
dapat meraih sukses di tahun berikutnya.
· Bagaimana cara anda menyelesaikan konflik? Bisa beri
contoh?
· Bisakah anda ceritakan suatu kejadian dimana anda mencoba
untuk menyelesaikan suatu tugas dan ternyata gagal?
. Ceritakan apa yang anda lakukan ketika dipaksa membuat suatu aturan
yang tidak menyenangkan bagi karyawan tetapi menguntungkan bagi
perusahaan.

Sebagai suatu proses yang melibatkan interaksi antara kedua belah
pihak, dalam wawancara kerja si pelamar juga biasanya diberikan
kesempatan untuk mengajukan pertanyaan. Oleh karena itu akan sangat
baik jika pelamar mempersiapkan beberapa pertanyaan, misalnya:

· Apa yang diharapkan dari saya jika saya diterima untuk jabatan ini?
· Menurut pengalaman di sini, apa yang merupakan tantangan terbesar
bagi pemegang jabatan ini?
· Apakah ada pelatihan (internal maupun eksternal) yang dapat
membantu saya untuk lebih berperan jika saya diterima bekerja di
perusahaan ini?

Adakah ada hal-hal khusus di luar uraian jabatan yang harus saya
selesaikan dalam waktu tertentu?

Menangani Pertanyaan Bersifat Pribadi

Berbeda dengan kondisi di negara-negara maju dimana hak individu
sangat dijunjung tinggi dan telah memiliki perangkat hukum sangat
memadai tentang hal-hal yang mengatur hak-hak pribadi seseorang
sehingga para recruiter (pewawancara) sangat berhati-hati dalam
mengajukan pertanyaan, di Indonesia justru sebaliknya. Dalam
wawancara kerja di perusahaan-perusahaan di Indonesia seringkali
pewawancara justru banyak menggali masalah-masalah yang bersifat
pribadi. Contoh: Menanyakan latarbelakang pelamar (orangtua, saudara,
istri, anak, status, agama, suku bangsa, umur) adalah merupakan hal
yang dianggap biasa.

Meskipun seringkali pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak memiliki
relevansi dengan jabatan yang dilamar, pelamar harus menyiapkan diri
untuk merespon pertanyaan-pertanyaan tersebut secara tepat dengan
cara-cara yang elegan. Para penanya mungkin saja tidak bermaksud
untuk menyudutkan pelamar, tetapi lebih didasarkan pada kepedulian
mereka terhadap kecocokan antara pelamar (calon karyawan) dengan
budaya yang ada dalam perusahaan. Oleh karena itu jika pelamar
ditanyakan mengenai hal-hal yang dirasa tidak berhubungan dengan
pekerjaan yang ditawarkan, pelamar harus mampu mengidentifikasi apa
makna dibalik pertanyaan tersebut. Untuk merespon pertanyaan-
pertanyaan yang bersifat pribadi, pelamar dapat melakukan beberapa
alternatif:
· Pelamar bisa mengklarifikasi kepada penanya apa relevansi
pertanyaan yang diajukan dengan jabatan yang dilamar sehingga penanya
dapat menjelaskan lebih jauh hubungannya dengan pekerjaan, lalu
berikan jawaban yang tepat.
· Pelamar dapat menjawab langsung secara diplomatis dengan
kesadaran penuh bahwa pertanyaan tersebut memang tidak memiliki
hubungan langsung dengan pekerjaan / jabatan yang dilamar.

Pelamar bisa juga menolak untuk menjawab pertanyaan tersebut jika
dirasa sangat mengganggu privacy pelamar. Jika hal ini terpaksa
dilakukan, maka harus dilakukan dengan cara-cara halus dan diplomatis
sehingga recruiter tidak merasa dilecehkan karena dianggap telah
memberikan pertanyaan yang keliru.

Faktor-Faktor Negatif

Beberapa faktor, baik fisik maupun psikologis, yang harus diwaspadai
oleh pelamar adalah faktor-faktor negatif yang menjadi perhatian
pewawancara. Faktor-faktor tersebut misalnya:

· Penampilan diri yang terlihat tidak professional (dandanan menor,
pakaian yang tidak enak dilihat, tidak rapi, dan tidak sesuai
suasana)
· Bersikap angkuh, defensive atau agresif
· Ogah-ogahan (tidak terlihat antusias atau tertarik dengan materi
pembicaraan yang diajukan pewawancara)
· Gugup
· Sangat menekankan pada kompensasi yang akan diterima
· Selalu berusaha mencari-cari alasan atas setiap kegagalan
yang pernah dialami di masa lalu
· Tidak bisa berdiplomasi dan kurang bisa bersopan santun
· Menyalahkan perusahaan lama atau bekas atasan dimasa lalu,
atau mengeluhkan perubahan teknologi yang cepat
· Tidak bisa fokus dalam menjawab pertanyaan atau
pembicaraan pewawancara
· Gagal memberikan pertanyaan kepada pewawancara
· Berulang kali bertanya: “apa yang dapat diberikan
perusahaan kepada saya kalau saya melakukan ……?”

Kurang persiapan: gagal memperoleh informasi penting seputar
perusahaan, gagal menjawab pertanyaan-pertanyaan pewawancara dan
tidak bisa mengajukan pertanyaan bermutu kepada pewawancara.

Beberapa Saran

Bagi anda pencari kerja yang dipanggil untuk menjalani wawancara
kerja, mungkin ada baiknya anda memperhatikan beberapa saran dibawah
ini.

Lakukan hal-hal berikut:

· Pastikan anda sudah tahu tempat wawancara
· Jika tidak diberitahu terlebih dahulu jenis pakaian apa
yang harus dipakai, maka gunakan pakaian yang bersifat formal,bersih
dan rapi
· Mempersiapkan diri menjawab pertanyaan-pertanyaan yang
mungkin akan diajukan pewawancara
· Usahakan untuk tiba 10 (sepuluh) menit lebih awal, jika
terpaksa terlambat karena ada gangguan di perjalanan segera beritahu
perusahaan (pewawancara)
· Sapa satpam atau resepsionis yang anda temui dengan ramah
· Jika harus mengisi formulir, isilah dengan lengkap dan
rapi.
· Ucapkan salam (selamat pagi / siang / sore) kepada para
pewawancara dan jika harus berjabat tangan, jabatlah dengan erat
(tidak terlalu keras namun tidak lemas)
· Tetaplah berdiri sampai anda dipersilakan untuk duduk.
Duduk dengan posisi yang tegak dan seimbang
· Persiapkan surat lamaran dan CV anda
· Ingat dengan baik nama pewawancara
· Lakukan kontak mata dengan pewawancara
· Tetap fokus pada pertanyaan yang diajukan pewawancara
· Tunjukkan antusiasme dan ketertarikan anda pada jabatan
yang dilamar dan pada perusahaan
· Gunakan bahasa formal, bukan prokem atau bahasa gaul;
kecuali anda diwawancarai untuk mampu menggunakan bahasa tersebut
· Tampilkan hal-hal positif yang pernah anda raih
· Tunjukkan energi dan rasa percaya diri yang tinggi
· Tunjukkan apa yang bisa anda perbuat untuk perusahaan bukan
apa yang bisa diberikan oleh perusahaan kepada anda
· Jelaskan serinci mungkin hal-hal yang ditanyakan oleh
pewawancara
· Ajukan beberapa pertanyaan bermutu diseputar pekerjaan anda
dan bisnis perusahaan secara umum
· Berbicara dengan cukup keras sehingga suara jelas terdengar
oleh pewawancara
· Akhiri wawancara dengan menanyakan apa yang harus anda
lakukan selanjutnya

Ucapkan banyak terima kasih kepada pewawancara atas waktu dan
kesempatan yang diberikan kepada anda.

Hindari hal-hal berikut:

· Berasumsi bahwa anda tahu tempat wawancara, padahal anda
tidak yakin
· Tidak melatih diri untuk menjawab pertanyaan yang kira-kira
akan diajukan pewawancara
· Berpakaian seadanya atau berpakaian dan berdandan sangat
mencolok
· Datang terlambat
· Tidak membawa surat lamaran dan CV
· Menganggap remeh satpam, resepsionis bahkan pewawancara
· Menjabat tangan pewawancara dengan lemas dan gemeta
· Merokok, mengunyah permen atau meludah selama wawancara
· Duduk selonjor atau bersandar
· Berbicara terlalu keras atau terlalu lembut
· Membuat lelucon
· Menjawab sekedarnya saja, seperti “ya” atau “tidak”
atau “tidak tahu” atau “entahlah”.
· Terlalu lama berpikir setiap kali menjawab
· Mengalihkan topik pembicaraan ke hal-hal yang tidak ada
hubungan dengan pekerjaan
· Menyalahkan mantan atasan, mantan rekan kerja atau
perusahaan yang lama
· Memberikan jawaban palsu, berbohong atau memanipulasi data
· Menanyakan gaji dan fasilitas yang diterima pada saat
wawancara seleksi dimana anda belum tahu kemungkinan anda akan
diterima atau tidak
· Memperlihatkan rasa putus asa anda dengan menunjukkan bahwa
anda mau bekerja untuk bidang apa saja dan mau melakukan apa saja
asal bisa diterima bekerja di perusahaan tersebut
· Membahas hal-hal negatif dari anda yang akan merugikan diri
anda sendiri
· Mengemukakan hal-hal yang dianggap masih kontroversial
· Menelpon atau menerima telepon, atau membaca buku selama
wawancara
· Salah menyebut nama pewawancara
· Tidak mengajukan pertanyaan pada saat diberikan kesempatan
untuk bertanya
· Lupa mengucapkan terima kasih kepada para pewawancara


Jaman dahulu kala di Rusia hidup pasangan suami-istri Simon dan Matrena. Simon yang miskin ini adalah seorang pembuat sepatu. Meskipun hidupnya tidaklah berkecukupan, Simon adalah seorang yang mensyukuri hidupnya yang pas-pasan. Masih banyak orang lain yang hidup lebih miskin daripada Simon. Banyak orang-orang itu yang malah berhutang padanya. Kebanyakan berhutang ongkos pembuatan sepatu. Maklumlah, di Rusia sangat dingin sehingga kepemilikan sepatu dan mantel merupakan hal yang mutlak jika tidak mau mati kedinginan.
Suatu hari keluarga tersebut hendak membeli mantel baru karena mantel mereka sudah banyak yang berlubang-lubang. Uang simpanan mereka hanya 3 rubel (rubel = mata uang Rusia) padahal mantel baru yang paling murah harganya 5 rubel. Maka Matrena meminta pada suaminya untuk menagih hutang orang-orang yang telah mereka buatkan sepatu. Maka Simon pun berangkat pergi menagih hutang. Tapi tak satupun yang membayar. Dengan sedih Simon pulang. Ia batal membeli mantel.
Dalam perjalanan pulang, Simon melewati gereja, dan saat itu ia melihat sesosok manusia yang sangat putih bersandar di dinding luar gereja. Orang itu tak berpakaian dan kelihatan sekali ia sangat kedinginan. Simon ketakutan, “Siapakah dia? Setankah? Ah, daripada terlibat macam-macam lebih baik aku pulang saja”. Simon bergegas mempercepat langkahnya sambil sesekali mengawasi belakangnya, ia takut kalau orang itu tiba-tiba mengejarnya.
Namun ketika semakin jauh, suara hatinya berkata, “HAI SIMON, TAK MALUKAH KAU? KAU PUNYA MANTEL MESKIPUN SUDAH BERLUBANG-LUBANG, SEDANGKAN ORANG ITU TELANJANG. PANTASKAH ORANG MENINGGALKAN SESAMANYA BEGITU SAJA?”
Simon ragu, tapi akhirnya toh ia balik lagi ke tempat orang itu bersandar. Ketika sudah dekat, dilihatnya orang itu ternyata pria yang wajahnya sungguh tampan. Kulitnya bersih seperti kulit bangsawan. Badannya terlihat lemas dan tidak berdaya, namun sorot matanya menyiratkan rasa terima kasih yang amat sangat ketika Simon memakaikan mantel luarnya kepada orang itu dan memapahnya berdiri. Ia tidak bisa menjawab sepatah kata pun atas pertanyaan-pertanyaan Simon, sehingga Simon memutuskan untuk membawanya pulang.

Sesampainya di rumah, Matrena marah sekali karena Simon tidak membawa mantel baru dan membawa seorang pria asing.
“Simon, siapa ini? Mana mantel barunya? “
Simon mencoba menyabarkan Matrena, “Sabar, Matrena… dengar dulu penjelasanku. Orang ini kutemukan di luar gereja, ia kedinginan, jadi kuajak sekalian pulang”.
“Bohong!! Aku tak percaya….sudahlah, pokoknya aku tak mau dengar ceritamu! Sudah tahu kita ini miskin kok masih sok suci menolong orang segala!! Usir saja dia!!”
“Astaga, Matrena! Jangan berkata begitu, seharusnya kita bersyukur karena kita masih bisa makan dan punya pakaian, sedangkan orang ini telanjang dan kelaparan. Tidakkah di hatimu ada sedikit belas kasih?”
Matrena menatap wajah pria asing itu, mendadak ia merasa iba. Lalu disiapkannya makan malam sederhana berupa roti keras dan bir hangat.
“Silakan makan, hanya sebeginilah makanan yang ada. Siapa namamu dan darimana asalmu? Bagaimana ceritanya kau bisa telanjang di luar gereja?”
Tiba-tiba wajah pria asing itu bercahaya. Mukanya berseri dan ia tersenyum untuk pertama kalinya.
“Namaku Mikhail, asalku dari jauh. Sayang sekali banyak yang tak dapat kuceritakan. Kelak akan tiba saatnya aku boleh menceritakan semua yang kalian ingin ketahui tentang aku. Aku akan sangat berterima kasih kalau kalian mau menerimaku bekerja disini.”
“Ah, Mikhail, usaha sepatuku ini cuma usaha kecil. Aku takkan sanggup menggajimu”, demikian Simon menjawab. Tak apa, Simon. Kalau kau belum sanggup menggajiku, aku tak keberatan kerja tanpa gaji asalkan aku mendapat makan dan tempat untuk tidur.”
“Baiklah kalau kau memang mau begitu. Besok kau mulai bekerja”.
Malamnya pasangan suami-istri itu tak dapat tidur. Mereka bertanya-tanya. “Simon tidakkah kita keliru menerima orang itu? Bagaimana jika Mikhail itu ternyata buronan?” Matrena bertanya dengan gelisah pada Simon.
Simon menjawab, “Sudahlah Matrena. Percayalah pada pengaturan Tuhan. Biarlah ia tinggal di sini.Tingkah lakunya cukup baik. Kalau ternyata ia berperilaku tidak baik, segera kuusir dia”.
Esoknya Mikhail mulai bekerja membantu Simon membuat dan memperbaiki sepatu. Di bengkelnya, Simon mengajari Mikhail memintal benang dan membuat pola serta menjahit kulit untuk sepatu. Sungguh aneh, baru tiga hari belajar, Mikhail sudah bisa membuat sepatu lebih baik dan rapi daripada Simon.
Lama kelamaan bengkel sepatu Simon mulai terkenal karena sepatu buatan Mikhail yang bagus. Banyak pesanan mengalir dari desa-desa yang penduduknya kaya. Simon tidak lagi miskin. Keluarga itu sangat bersyukur karena mereka sadar, tanpa bantuan tangan terampil Mikhail, usaha mereka takkan semaju ini.
Namun mereka juga terus bertanya-tanya dalam hati, siapa sebenarnya Mikhail ini. Anehnya, selama Mikhail tinggal bersama mereka, baru sekali saja ia tersenyum, yaitu dulu saat Matrena memberi Mikhail makan. Namun meski tanpa senyum, muka Mikhail selalu berseri sehingga orang tak takut melihat wajahnya.
Suatu hari datanglah seorang kaya bersama pelayannya. Orang itu tinggi besar, galak dan terlihat kejam. “Hai Simon, Aku minta dibuatkan sepatu yang harus tahan setahun mengahadapi cuaca dingin. Kalau sepatu itu rusak sebelum setahun, kuseret kau ke muka hakim untuk dipenjarakan !!! Ini, kubawakan kulit terbaik untuk bahan sepatu. Awas, hati-hati ini kulit yang sangat mahal!”
Di pojok ruangan, Mikhail yang sedari tadi duduk diam, tiba-tiba tersenyum. Mukanya bercahaya, persis seperti dulu ketika ia pertama kalinya tersenyum.
Sebenarnya Simon enggan berurusan dengan orang ini. Ia baru saja hendak menolak pesanan itu ketika Mikhail memberi isyarat agar ia menerima pesanan itu. Simon berkata, “Mikhail, kau sajalah yang mengerjakan sepatu itu. Aku sudah mulai tua. Mataku agak kurang awas untuk mengerjakan sepatu semahal ini. Hati-hati, ya. Aku tak mau salah satu atau malah kita berdua masuk penjara.”
Ketika Mikhail selesai mengerjakan sepatu itu, bukan main terkejutnya Simon. “Astaga, Mikhail, kenapa kau buat sepatu anak-anak? Bukankah yang memesan itu orangnya tinggi besar? Celaka, kita bisa masuk penjara karena….”
Belum selesai Simon berkata, datang si pelayan orang kaya. “Majikanku sudah meninggal. Pesanan dibatalkan. Jika masih ada sisa kulit, istri majikanku minta dibuatkan sepatu anak-anak saja”.
“Ini, sepatu anak-anak sudah kubuatkan. Silakan bayar ongkosnya pada Simon”, Mikhail menyerahkan sepatu buatannya pada pelayan itu. Pelayan itu terkejut, tapi ia diam saja meskipun heran darimana Mikhail tahu tentang pesanan sepatu anak-anak itu.
Tahun demi tahun berlalu, Mikhail tetap tidak pernah tersenyum kecuali pada dua kali peristiwa tadi. Meskipun penasaran, Simon dan Matrena tak pernah berani menyinggung-nyinggung soal asal usul Mikhail karena takut ia akan meninggalkan mereka. Suatu hari datanglah seorang ibu dengan dua orang anak kembar yang salah satu kakinya pincang! Ia minta dibuatkan sepatu untuk kedua anak itu. Simon heran sebab Mikhail tampak sangat gelisah. Mukanya muram, padahal biasanya tidak pernah begitu. Saat mereka hendak pulang, Matrena bertanya pada ibu itu, “Mengapa salah satu dari si kembar ini kakinya pincang?”
Ibu itu menjelaskan, “Sebenarnya mereka bukan anak kandungku. Mereka kupungut ketika ibunya meninggal sewaktu melahirkan mereka. Padahal belum lama ayah mereka juga meninggal. Kasihan, semalaman ibu mereka yang sudah meninggal itu tergeletak dan menindih salah satu kaki anak ini Itu sebabnya ia pincang. Aku sendiri tak punya anak, jadi kurawat mereka seperti anakku sendiri.”
“Tuhan Maha Baik, manusia dapat hidup tanpa ayah ibunya, tapi tentu saja manusia takkan dapat hidup tanpa Tuhannya”, kata Matrena.
Mendengar itu, Mikhail kembali berseri-seri dan tersenyum untuk ketiga kalinya. Kali ini bukan wajahnya saja yang bercahaya, tapi seluruh tubuhnya.
Sesudah tamu-tamu tersebut pulang, ia membungkuk di depan Simon dan Matrena sambil berkata, “Maafkan semua kesalahan yang pernah kuperbuat, apalagi telah membuat gelisah dengan tidak mau menceritakan asal usulku. Aku dihukum Tuhan, tapi hari ini Tuhan telah mengampuni aku. Sekarang aku mohon pamit.”

Simon dan Matrena tentu saja heran dan terkejut, “Nanti dulu Mikhail, tolong jelaskan pada kami siapakah sebenarnya kau ini?”
Mikhail menjawab sambil terus tersenyum, “Sebenarnya aku adalah adalah satu malaikat Tuhan. Bertahun-tahun yang lalu Tuhan menugaskan aku menjemput nyawa ibu kedua anak tadi. Aku sempat menolak perintah Tuhan itu tapi kuambil juga nyawa ibu mereka. Aku menganggap Tuhan kejam. Belum lama mereka ditinggal ayahnya, sekarang ibunya harus meninggalkan mereka juga. Dalam perjalanan ke surga,
Tuhan mengirim badai yang menghempaskanku ke bumi. Jiwa ibu bayi menghadap Tuhan sendiri. Tuhan berkata padaku, ‘MIKHAIL, TURUNLAH KE BUMI DAN PELAJARI KETIGA KEBENARAN INI HINGGA KAU MENGERTI:

PERTAMA, APAKAH YANG HIDUP DALAM HATI MANUSIA?
KEDUA, APA YANG TAK DIIJINKAN PADA MANUSIA?
KETIGA, APA YANG PALING DIPERLUKAN MANUSIA?’

“Aku jatuh di halaman gereja, kedinginan dan kelaparan. Simon menemukan dan membawaku pulang. Waktu Matrena marah-marah dan hendak mengusir aku, kulihat maut dibelakangnya. Seandainya ia jadi mengusirku, ia pasti mati malam itu. Tapi Simon berkata, “Tidakkah di hatimu ada sedikit belas kasih?” Matrena jatuh iba dan memberi aku makan. Saat itulah aku tahu kebenaran pertama:

“YANG HIDUP DALAM HATI MANUSIA ADALAH BELAS KASIH”

“Kemudian ada orang kaya yang memesan sepatu yang tahan satu tahun sambil marah-marah. Aku melihat maut di belakangnya. Ia tidak tahu ajalnya sudah dekat. Aku tersenyum untuk kedua kalinya. Saat itulah aku tahu kebenaran kedua:

“MANUSIA TIDAK DIIJINKAN MENGETAHUI MASA DEPANNYA. MASA DEPAN MANUSIA ADA DI TANGAN TUHAN”

“Hari ini datang ibu angkat bersama kedua anak kembar tadi. Ibu kandung si kembar itulah yang diperintahkan Tuhan untuk kucabut nyawanya. Dan aku melihat si kembar dirawat dengan baik oleh ibu lain. Aku tersenyum untuk ketiga kalinya dan kali ini tubuhku bercahaya. Aku tahu kebenaran yang ketiga:

“MANUSIA DAPAT HIDUP TANPA AYAH DAN IBUNYA TAPI MANUSIA TIDAK AKAN DAPAT HIDUP TANPA TUHANNYA.”

Simon, Matrena, terima kasih atas kebaikan kalian berdua. Aku telah mengetahui ketiga kebenaran itu, Tuhan telah mengampuniku. Semoga kasih Tuhan senantiasa menyertai kalian sepanjang hidup.” Mikhail kembali ke surga.

Dari : Kristamedia



Judul: A BEAUTIFUL MIND

Sutradara: Ron HowardSkenario: Akiva Goldman
Pemain: Russell Crowe, Jennifer Conelly, Paul Bethany

Ini adalah sebuah film yang bercerita tentang perjuangan luar biasa seorang penerima Nobel Ekonomi, John Forbes Nash (Russel Crowe) yang menderita gangguan schizophrenia paranoid.
Apakah schizophrenia itu? Ini adalah penyakit, di mana pemikiran manusia seringkali mengalami suatu dinamisasi, entah itu mengarah pada kemajuan atau bahkan kemunduran. Pemikiran merupakan proses perdebatan antara kita dengan diri kita. Secara sadar ataupun tidak sadar kita pasti melakukan hal tersebut.
Tokoh utama film ini (Crowe) adalah seorang ilmuwan matematika yang tentunya lebih sering mengutak-atik angka. Kehidupan pun ia jabarkan dengan angka-angka. Hal inilah yang menghadapkan ia dengan penyakit psikologisnya. Hingga akhirnya ia selalu dihantui oleh mimpi ataupun fantasinya. Dalam fantasinya ia seolah-olah berada dalam keanggotaan rahasia (intel) departemen pertahanan Amerika Serikat yang sedang melakukan spionase ataupun pelacakan terhadap pemboman yang akan dilakukan Rusia. Penyakit ini dinamakan schizophrenia yang memiliki gejala-gejala paranoid terhadap sekitarnya.Tak ada obat yang mampu menyembuhkan penyakit ini, kecuali kesadaran penderitanya sendiri. Seringkali dilakukan suatu langkah pengobatan, namun selalu berakhir dengan nilai nol besar. Setiap kali pengobatan nantinya ia akan kembali pada situasi yang serba fantasi, kesemuan belaka. Dukungan keluarga [terutama istrinya, Alicia, fisikawan muda yang cantik], sahabat-sahabatnya, sejawatnya di kampus, membuat John Nash bisa “berdamai” dengan halusinasi dan delusi yang menjadi simptom utama schizophrenia.
Film ini luar biasa dari segi penceritaannya. Juga menampilkan kejeniusan Nash yang di atas rata-rata, halusinasi dan delusi yang terus menghantuinya, pengobatan schizophrenia yang saat itu masih menggunakan insulin shock-therapy, dukungan istri dan rekan-rekannya dalam karirnya di Princeton University, dan masih banyak lagi.
Memang film ini kurang mengeksplorasi Game Theory yang merupakan solusi ekonomi yang lebih canggih daripada metafora Invisible Hand-nya seorang ekonom terkemuka Adam Smith, yang mengantarkan Nash memperoleh Nobel. Soalnya ini film tentang shizophrenia, bukan tentang ekonomi. Insya Allah tentang teori ekuilibrium atau dikenal dengan kesetimbangan Nash ini akan saya bahas di tulisan yang lain. Inti dari Game Theory yang sangat terkenal ini adalah “analysis of decision making” atau sebuah analisis dengan mempertimbangkan strategi orang lain di dalam strategi kita. Salah satu aplikasi yang memanfaatkan Game Theory ini adalah untuk kejadian prisoner’s dilemma, di mana kejadian ini akan menguntungkan semua pihak bila mencapai sebuah titik yang dinamakan kesetimbangan Nash. Teori kesetimbangan ini lebih banyak digunakan pada bidang ekonomi.
Pada saat John Nash menerima penganugerahan Nobel di Swedia pada tahun 1994 berkat teori ekulibriumnya yang banyak berjasa pada teori-teori ekonomi, ia menutup penganugerahan tersebut dengan kata-kata yang sangat inspiratif buat saya.

“Aku selalu percaya akan angka. Dalam persamaan dan logika, yang membawa pada akal sehat. Tapi setelah seumur hidup mengejar, aku bertanya, apa logika sebenarnya? Siapa yang memutuskan apa yang masuk akal? Pencarianku membawaku ke alam fisik, metafisik, delusional, dan tenggelam ke dalamnya yang membuatku hampir kehilangan istri dan anakku. Namun saat aku hampir tenggelam hingga ke dasar palung delusi, keyakinan cinta istriku yang mampu menarikku kembali ke permukaan alam sadarku. Keyakinan cintanya yang tulus telah menyadarkan aku…telah kudapatkan penemuan penting dalam karirku, hidupku. Hanya di persamaan misterius cinta, alasan logis tidak bisa ditemukan. Ada satu misteri yang belum bisa aku pecahkan, yaitu misteri cinta.”

Perhaps it is good to have a beautiful mind, but an even greater gift is to discover a beautiful heart. (dari berbagai sumber)




July 2014
M T W T F S S
« Sep    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.